Entah apakah ini hanya perasaanku saja.
yang jelas aku selalu merasakannya ketika jam di dinding telah menunjukkan
lewat angka 00.00. Seringkali aku terbangun karena mendengarnya. Aku penasaran
sebenarnya siapakah orang yang membuat kegaduhan itu. Aku sangsi, apa aku harus
memanggilnya orang atau mungkin... hantu? Oh tidak mungkin, jaman apa ini?
Sudah mendekati abad ke 21, kalau berdasarkan perubahan kurikulum. Tapi, kenapa
yang lain tidak pernah merasakan hal yang kurasakan sekarang ya? Ah.. apa
mungkin ini hanya halusinasi ku saja? atau memang benar adanya? Sudahlah.. aku
ingin melanjutkan tidur malamku lagi.
Keesokan harinya kegaduhan terjadi di
kostku.
“Semalem ada mbak cantik lagi !!” seru
mbak kostku yang bernama Yenize.
“Iya mbak? dimana? kapan kejadiannya?”
tanyaku penuh rasa takut.
“Semalem itu lo adikss.. pas kakaks
mandi...” seperti biasa, mbak kostku yang satu ini memang paling beda dengan
mbak kostku yang lain. Pembawaannya agak centil, namun sebenarnya ia sangat
baik dan rajin beribadah.
“Ya Allah... tuh kan, aku jadi takut !”
seruku, agak merengek. Memang aku dikenal sebagai Maba yang agak cengeng.
“Ya sudahlah adikss.. itu mereka cuma
ingin kita mengakui keberadaan mereka jadi tidak perlu takut ya...” kata mbak
Yenize lalu pergi ke atas, kamarnya.
“Yaudah deh mbak... aku berangkat kuliah
dulu. Assalamualaikum... “
*********
Sudah dari setengah jam yang lalu aku
menunggu kedatangan teman-teman satu kostku yang ada di lantai bawah. Tapi
mereka tak kunjung datang juga. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan
lewat empat puluh lima menit malam. Perasaanku mulai tak menentu, apalagi
semenjak aku mendengar suara derap langkah kaki dari luar jendela kostku. Ku
pertajam lagi pendengaranku dengan menutup kedua mataku. Aku berusaha
memfokuskan pikiranku pada apa yang sedang ada di luar jendela kostku. Ternyata
bukan ! itu bukan suara derap langkah kaki, tapi itu suara seretan kaki yang
sangat berat, berat dan begitu berat. Aku menjadi merinding, dan tiba-tiba saja
bulir-bulir kecil mengalir dari kedua sudut mataku. Ya, aku menangis. Aku
takut. Aku sangat takut sampai-sampai
nafasku mulai memburu dan ku rasa sesak. Aku ingin teriak, ketika ku dengar
suara seretan kaki itu makin mendekat ke arah jendelaku. Sreeeeettt....
sreeeeettt... sreeetttt... suaraku tercekat ketika aku rasa, suara itu mulai
berhenti. Rasa takutku semakin menjadi. Oh Tuhan, demi apa aku tidak pernah
ingin berada dalam posisi ini. Seseorang bawa aku pergi dari tempat ini, doaku
dalam hati.
Tok..
tok.. tok... suara pintu tiba-tiba mengagetkanku, menambah sensasi rasa
takutku. “Dibuka tidak, buka, tidak, buka, tidak?” tanyaku pada diriku sendiri.
Tok.. tok.. tok... tok... suara pintu
itu makin membuat jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengalir
dari keningku. Belum sempat ku buka pintu, tiba-tiba saja lampu berkedap-kedip
dan tiba-tiba mati. Damn !! gerutuku dalam hati. Kenapa hari ini aku begitu
sial? terkurung sendirian di kamar kost yang penuh dengan bau melati dan
kemenyan, yang memang sengaja Bapak kost taruh di setiap sudut kamar, entah
untuk apa. Aku ingat sekali ketika aku menanyakan untuk apa melati dan kemenyan
itu, bapak kost ku hanya diam lalu menatapku tajam.
Tiba-tiba sekelebat bayangan putih
melayang di atas kaca riasku. Tapi.. tidak.. itu tidak mungkin. Ini hanya
halusinasi ku saja. Ya, ini hanya halusinasi ku saja. beberapa hari terakhir
ini aku memang sering berhalusinasi tentang keberadaan hantu yang memang aku
design sendiri bagaimana bentuknya. Aku mulai enjoy dan ku tarik nafas.. aku
berjalan menuju pintu kamarku dengan membawa senter yang berhasil kutemukan. Ku
dengar suara seretan kaki itu lagi. Sreeetttt... sreeetttt... sreeetttt... aku
bergidik.. badanku menjadi panas dingin. Ku lihat sekeliling gelap.
Tok... tok... tok.... tok... suara pintu
itu mengagetkanku kembali. Adrenalinku berpacu lebih cepat lagi dari
sebelumnya. Oh Tuhan, ampuni semua dosa-dosaku selama ini.
Tok.. tok... tok.... suara pintu lagi..
aku semakin ngeri dibuatnya. Entah siapa orang yang berada di luar, seakan ia
sangat bernafsu sekali untuk masuk ke dalam kostku ini. Oh... mungkin
teman-teman datang, pikirku.
“Iya sebentar... siapa?” kataku mencoba
mencairkan suasana dan untuk mengurangi rasa takutku tentunya. Hening. Tidak
ada jawaban.
Tok... tok... tok... yaps, seperti yang
telah kupikirkan sebelumnya. Pertanyaanku hanya akan dijawab dengan suara
ketokan pintu lagi. Ughhh... sebel !!
kembali ku tarik nafas dalam-dalam ketika sudah memegang kendali pintu. Satu
kali putaran pintu ini akan terbuka dan semua kuserahkan padamu ya Allah..
apapun yang terjadi aku hanya ingin, semua orang tau bahwa aku menyayangi
mereka. Akhirnya... krieetttt... ku buka pintu itu... dan....
“Surpriseee... selamat ulang tahun
sayang...”
“Adik kost, semoga tambah cantik, imut,
pinter, semua cepet dikabulin doanya... amiennnn...” aku terdiam sejenak, lalu
berusaha untuk kembali pada kehidupan nyata. Aku kaget setengah mati ketika ku
tau bahwa yang ada di hadapanku adalah teman-teman satu kostku dengan wajah
ceria dan dengan kue tart serta kado di tangan mereka. Ya ampun.. aku sampai
lupa. Hari ini memang hari ulang tahunku yang ke-18. Serta merta aku menangis
lagi. Sangat-sangat tidak menyangka bahwa teman-teman satu kostku akan memberiku
surprise seperti ini. Aku melihat mereka satu persatu. Semua tertawa bahagia.
Tapi kenapa aku tetap merasa aneh ya? Ah sudahlah, hanya perasaanku saja.
Beberapa menit kemudian lampu yang tadi
sudah hidup, kembali mati.
“Mbak.. “ panggilku.
“Iya adik... “ jawab seseorang di
dekatku, entah itu yang menjawab mbak kostku yang bernama siapa. Maklum, aku
masih baru jadi belum begitu mengenal semua yang ada di kost 541 B ini. 541 B,
itu nama kostku. Agak unik memang, tapi entah kenapa teman-temanku sangat suka
dengan kostku ini. Padahal, menurutku kost ini terlalu masuk di antara gang,
dan... sedikit gelap. Menjadi horor buatku. Sekali lagi, ku perjelas kost ku
bernama kost 541 B. Kost horor. Aku saranin untuk adik-adik Maba tahun depan
jangan mau kost di sini.
“Mbak... aku takut...” ucapku lagi,
mencari suara yang tadi menjawab panggilanku. Kesana-kemari aku melangkah, tapi
aku tidak menemukan apa-apa.
“Mbak...” panggilku lagi.
Hening. Tidak ada jawaban. Suasana
kembali mencekat. Aku terdiam seketika.
“Eh tolong ya.. kalau mau ngerjain aku
jangan sekarang, tidak seperti ini juga caranya. Aku tidak suka.” aku mulai
emosi.
Hening. Tetap tidak ada jawaban.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Aku
mendengar suara seretan kaki itu. Sretttt... srettt... srettt... sreeetttt....
sreeetttt... suara itu semakin mendekat. Aku takut. Aku mencoba berlindung, mencari
tempat untuk bersembunyi. Tapi semua gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa,
sedangkan suara seretan itu semakin cepat ku dengar. Sret.. sret.. sret..
sret... nafasku memburu. Aku berdiri kembali mencoba pergi. Tapi, kakiku... kakiku...
sentuhan dingin itu membuat lututku lemas. Aku merasakan ada yang berusaha
menarik pergelangan kakiku. Aku coba untuk menariknya kembali. Tetapi, tarikan
itu begitu kuat. Rasa panas dan dingin menjadi satu. Sakit.. aku melihat
sekeliling. Gelap. Tapi apa ini? Kenapa aku merasa ada yang mengawasiku.
Telingaku berdengung... samar-samar ku dengar suara lengkingan seorang
perempuan dari sebelah kiriku. Aku tidak tahan mendengarnya. Ku tutup
telingaku, tapi semua itu tidak berpengaruh. Aku tetap saja mendengarnya, suara
itu menyakiti telingaku. Aku merasa pusing mendengarnya. Kakiku pun mulai
melemah ditariknya. Aku pasrah dengan kedua tangan di telinga.
Seketika aku mendengar lagu dengan
isakan tangis di selanya...
Lingsir
wengi... hiks... hiks...
sliramu
tumeking sirno...
Ojo
tangi nggonmu guling awas jo ngetoro...
Aku
lagi bang wingo wingo... hiks... hiks... hiksss...
Jin
setan kang tak utusi...
Dadyo
sebarang wojo lelayu sebet...
Hikss.. hikss... hiks...
Telingku semakin berdengung ketika lagu
itu berubah menjadi lengkingan panjang yang begitu menyakitkan. Aku berusaha
tetap untuk menutup telingaku. Ingin ku berteriak, tapi apa daya tenggorokanku
kering, pita suaraku seakan memutus begitu saja. Aku sudah tidak tahan. Argggggghhhhhhhhhhh....
semua berputar dan ku rasa gelap.
*********
Keesokan harinya...
Ditemukan mayat seorang gadis dengan
luka hangus di pergelangan kakinya dan telinga yang penuh dengan darah,
kira-kira berusia antara 18-20 tahun di sebuah pemakaman desa setempat. Di
sekitar mayat gadis itu ditemukan juga sebuah kertas yang berisi:
Tinggalkan
541 B...
Pembunuhan...
Pemerkosaan...
Kemenyan
dan melati...
Untuk
menutupi kematianku atas ulah bejat anaknya.
Aku
menunggu kalian...
Mengambil
dan menguburku dengan sempurna.
Komentar
Posting Komentar