Kau
begitu sempurna..
Dimataku
kau begitu indah..
Kau
membuat diriku..
Agar
selalu memujamu..
Sejak kecil aku
memang menyukainya. Entah kenapa ketika aku bernyayi, aku merasa tenang.
Seperti.. aku berada dalam duniaku sendiri. Sepi, tenang, damai. Aku memang
tidak menyukai keramaian. Ini juga alasanku kenapa aku meminta Ayah untuk tidak
kembali ke tempat asalku, Jakarta. Padahal aku disini masih beberapa hari
kemarin. Jogjakarta, bagiku adalah kota yang penuh dengan pesona, penuh budaya
dan penuh dengan masa-masaku dahulu.
Hai.. aku Luna.
Sebenarnya, tidak ada yang perlu dibanggain sih, dari seorang aku. Hanya saja,
kadang orang-orang di sekitarku memujiku terlalu berlebihan. Kata mereka,
suaraku bagus dan enak didengar. Aku bahkan tidak tahu ‘enak didengarnya’
terletak dimana, yang aku tahu.. aku hanya menyanyi jika aku ingin. Aku seperti
itu, bukan karena aku sombong. Itu karena.. aku hanya tidak ingin melakukannya.
Bagiku, menyanyi bukan hanya sekedar mengeluarkan suara dengan nada saja. Tapi
bagiku.. menyanyi adalah sebuah perasaan. Kamu bahkan dapat mengerti perasaan
seseorang di dekatmu hanya dengan mendengarkan mereka menyanyi. Aku sudah
beberapa kali menebak bagaimana perasaan salah satu sahabatku ketika dia
menyanyi, dan tentu saja jawabanku selalu benar. Aku sangat bersyukur karena
Tuhan telah menciptakan suatu kegiatan yang bernama ‘menyanyi’. Entahlah, aku
tidak dapat membayangkan bagaimana hidupku jika tidak ada ‘menyanyi’. Aku pasti
akan benar-benar merasa kesepian.
Ah.. hari ini,
hari pertamaku masuk sekolah. Hari yang paling aku tunggu sejak kepindahanku
dari Jakarta. Aku ingin secepatnya memiliki teman baru. Akhir-akhir ini aku
sering membayangkan bagaimana rasanya sekolah di tempat yang.. bagiku..
benar-benar baru. Yah.. aku berharap, teman-teman baruku nanti akan
memperlakukanku sama dengan teman-temanku ketika aku masih ada di Jakarta.
Sebenarnya sedih sekali jika aku mengingat kembali sahabat-sahabatku disana.
Ada Lili, Rachel, Nala dan Nina. Mereka adalah sahabat yang paling aku sayangi.
Semoga saja mereka tidak melupakanku.
“Terimakasih,
Yah.. Luna masuk dulu. Assalamualaikum... !!” aku bergegas keluar mobil dan
memasuki gerbang sekolah baruku. Baru saja aku melangkah, bel tanda masuk telah
berbunyi. Aku berlari karena aku harus mencari di mana letak kelas baruku, kemarin
aku tidak ikut Ayah ketika mendaftarkanku di sekolah ini, jadi aku harus
mencarinya sendiri. Secepat kilat ku langkahkan kakiku menuju ruang kepala
sekolah yang sempat aku tanyakan ke salah satu pesuruh di sekolah ini, tadi.
Lurus koridor, belok kanan dan.. tepat.. itu dia ruang kepala sekolahnya.
Syukurlah, tidak sesulit yang kukira. Segera ku ketok pintu.. tok.. tok..
Kenzo?
Yup !! di sinilah
aku sekarang, kelas XG. Duduk di bangku nomor tiga dari belakang. Tidak banyak
yang aku kenal, karena pelajaran pertama hari ini cukup menyita waktu dan
pikiran teman-teman baruku. Setidaknya, itu menurutku sih. Entahlah. Apalagi
yang harus ku perbuat kecuali duduk dengan tenang dan mendengarkan pelajaran
yang dijelaskan di depan. Matematika. Kata anak yang duduk di sampingku, guru
yang mengajar pelajaran matematika ini terkenal kejam. Yah.. ku pikir di setiap
sekolah pastilah yang mengajar matematika selalu dicap kejam, kiler dan
sebagainya. Begitupun di sekolahku yang dulu. Eh.. sebentar.. aku rasa.. ada
yang sedang memperhatikanku.. siapa ya? kulihat sekelilingku, dimulai dari
bangku barisan pertama.. tidak ada. Semua serius melihat kedepan, lalu.. baris kedua..
juga tidak ada kok.. baris ketiga... kulihat.. samping kanan kiriku.. masih tidak
ada. Lalu, dimana ya?
Ah.. dua barisan
bangku belakang belum aku lihat. Ternyata benar ! ada yang sedang
memperhatikanku.. ada apa ya? ada yang salahkah denganku hari ini? karena
penasaran, akhirnya ku tanyakan pada anak yang duduk disampingku tadi.
“Eh.. boleh tanya ga? kamu melihat ada yang
salah dari penampilanku hari ini?” entahlah.. itu bisa disebut pertanyaan atau
pernyataan.. dia menjawab “Haha.. engga kok, emang kenapa? kamu malah keliatan
manis..”
Wah.. dibilang
begitu jadi terbang deh rasanya.. “Cuma tanya saja kok, hehe.. makasie..“
jawabku sekenanya, “Sama-sama.. aku Tia..” lalu mengulurkan tangannya padaku.
“Aluna.. panggil
saja Luna.. oh ya.. yang duduk disana itu siapa ya?“ yang ini aku yakin, masuk
dalam kalimat pertanyaan.
“Yang mana? yang
itu?” tanyanya balik, aku jawab dengan anggukan kepala karena tadi aku lihat
pak Sodik, guru matematika ku, melihat sekilas ke arahku lalu berdehem. Aku
merasa tidak enak sendiri. Anak baru sudah bikin gaduh.. maaf ya pak, tidak
sengaja.. kupalingkan lagi mukaku ketika ku rasa aman, dan Tia
mengkomat-kamitkan bibirnya membentuk nama “Kenzo” dan kembali melihat kedepan.
Kenzo?
Kenzo? Nama itu
sepertinya.. tidak asing lagi bagiku.. tapi, siapa dan kenal dimana yah?
Ahahaha... tentu saja, nama itu tidak asing buatku. Kenzo kan nama kucingnya
Nala, sahabatku ketika masih di Jakarta. Ya Tuhan, kenapa aku bisa sampai lupa.
Lucu ya, nama anak itu sama dengan nama kucing. Lalu, aku tersenyum sendiri.
Sampai akhirnya ada yang menepukku dari belakang. Ah.. ternyata Tia..
“Kenapa, kok
senyum-senyum sendiri? nanti dikira gila lo sama anak-anak” tanyanya.. yang
membuatku tambah ingin ketawa saja.. mengingat “peristiwa nama kenzo” tadi. Akhirnya,
kuceritakan pada Tia kenapa aku senyum-senyum sendiri sebelum dia mengira aku
benar-benar gila dan ternyata dia juga ikut-ikutan tertawa setelah
mendengarnya. “Tapi, kamu hati-hati ya sama dia.” kata Tia tiba-tiba yang
tentunya mengagetkanku. “Kenapa harus hati-hati?” tanyaku ingin tahu. “Dia
disini tidak punya teman. Sering sendiri. Diam, introvert pokoknya. Dia itu
aneh. Seperti hidup dalam dunianya sendiri.”
“Eh?”
“Kok cuma eh
sih, tanggapanmu. Kamu tidak takut? biasanya kan orang seperti itu termasuk
psikopat.. “ ganti Tia yang kaget dengan jawabanku.
“Yah.. kan ga
semuanya gitu, Tia..”
“Emm.. kamu
belum kenal sih. Ntar deh kamu bakal tahu sendiri..”
“Oke.. eh, masuk
kelas yuk, sudah bel tuh.. “ ajakku dan kami kembali ke kelas, yang tanpa
kusadari, ternyata ada yang memperhatikanku dan Tia dari samping mading. Siapa
lagi kalau bukan Kenzo.
Sekali Lagi, Kenzo?
Aku masih
penasaran dengan anak itu. Kenapa semuanya seperti menjauhi dia? ada apa
dengannya? lalu, ada apa denganku? kenapa dia melihatku sampai sebegitunya? dari
awal pelajaran sampai bel pulang sekolah, rasanya dia tidak mau membiarkanku
lepas dari pandangannya. Aku yang menyadari hal itu, membuatku merasa mual dan
sedikit.. ngeri... lalu, kembali terngiang kata-kata Tia tadi ketika kami
sedang membicarakan Kenzo “Tapi, kamu
hati-hati ya sama dia.”, “Dia disini tidak punya temen. Sering sendiri. Diam,
introvert pokoknya. Dia itu aneh. Seperti hidup dalam dunianya sendiri.”, “Kok Cuma
eh sih, tanggapanmu. Kamu tidak takut? Biasanya kan orang seperti itu, termasuk
psikopat.. “ Pikirku, apa iya, dia termasuk psikopat? ah.. sudahlah..
lupakan saja. Saat ini.. aku ingin bernyanyi dan melupakan masalah Kenzo
sejenak...
Menarilah
dan terus tertawa..
Walau
dunia tak seindah surga..
Bersyukurlah
pada yang kuasa..
Cinta
kita di dunia..
Tok.. tok..
tok.. suara pintu mengagetkanku yang sedang asik bernyanyi.
“Iya, masuk.. “
jawabku dari dalam.
“Gimana sayang,
hari pertama di sekolah tadi?” tanya Ayah yang langsung mengambil tempat di samping
meja belajar ku. Sesekali Ayah mengamati keadaan kamarku yang.. bisa dibilang
seperti kapal pecah.
“Emm.. ya, gitu
deh, Yah.. safe kok ! tenang saja.. J” jawabku, tentu
saja bohong. Tahu sendiri kan.. kenapa aku bilang bohong.. yaps, soalnya di
hari pertama sekolah tadi saja sudah ada yang bikin ganjel dihatiku.. ciee
hati.. *sebenarnya penting tidak sih, memikirkan si Kenzo ini?
“Ayah pikir,
Luna akan tidak suka disekolah baru. Tapi, ternyata Ayah salah ya? bagus deh..
yang rajin, ya.. “ hadu.. Ayah membuat Luna merasa bersalah deh. Maaf ya, Yah..
ntar Luna janji deh, bakal cerita tentang si Kenzo itu.
“Oke, Yah.. ntar
Luna bukti’in deh.. “ jawabku lirih.
“Iya.. Ayah
percaya sama Luna. Yasudah kalau begitu, lanjutin saja istirahat Luna. Ayah
kembali kekantor dulu, ya.. nanti Ayah pulang cepet kok.. “ ucap Ayah, lalu pergi
dengan senyuman kecil di wajahnya. Aku senang sekali melihat Ayah tersenyum
seperti itu, bagiku yang sejak kecil hanya mengenal Ayah tanpa seorang Ibu, sering
menganggap kalau Ayah adalah segalanya buatku. Satu hal yang selama ini aku
pegang teguh. Bahwa aku tidak akan membuat Ayah kecewa. Apapun alasannya. Well,
waktunya istirahat siang.. zzzzzzz....
Aku, Kenzo.
Hari ini aku
sengaja berangkat pagi ke sekolah. Aku ingin melihat situasi sekolah ku ketika
masih pagi. Sekalian jalan-jalan di sekolah baru. Aku pikir, sekolah ini tidak
kalah bagus dengan sekolah ku di Jakarta. Perpustakaan di samping laboratorium
Kimia. Belok kiri, sebelah kanan, lurus.. kelas XI IPA 3 dan.. eh, sebentar..
sepertinya... apa aku tidak salah lihat, ya? tidak ! ini masih jam enam pagi.
Masa iya, dia juga berangkat sepagi ini. Siapa sih, dia sebenarnya? aku mulai
berjaga-jaga dan berusaha untuk bersikap sewajarnya. Sampai akhirnya ada yang
menarik tanganku dan...
“Aku Kenzo... “
ucapnya datar. Aku sempat merasa takut beberapa saat tapi, syukurlah aku bisa
menguasai keadaan. Aku menerima uluran tangannya, dingin..
“Aku Luna.. “
“Ngapain?”
tanyanya mencairkan suasana.
“Eh? Ini.. cuma
liat-liat.. “ jawabku.
Dan dia tanpa
ada kata-kata lagi langsung pergi. Sebenarnya apa sih, maksudnya? bikin orang
bingung saja deh. Kenzo.. Kenzo.. Kenzo... arghh.. sumpah aku jadi penasaran
dibuatnya. Well, aku ga bisa diem kaya gini terus. Aku harus bisa tahu
sebenarnya dia itu siapa dan apa maksud dibalik setiap tingkahnya.. aku jadi ga
mood lagi buat ngelanjutin pariwisata pagi ku disekolah baru ini. Huftt.. wait
me.. Kenzo.. !!
Bel pulang
sekolah sudah setengah jam yang lalu bunyi. Tapi, Tia belum juga datang.
Bisa-bisa gagal nih, rencanaku. Oke, aku tunggu setengah jam lagi kalau belum
datang juga, ya terpaksa deh, aku harus naik taksi dan pulang. Itu tandanya
rencanaku gatot alias gagal total. Ughh.. Tiiiiaaaaaaa... ya begitulah, aku dan
Tia langsung menjadi akrab sejak pertama kami berkenalan. Tia orangnya asyik,
supel, ramah dan suka membantu. Tapi, sayang dia suka lelet. Seperti hari ini.
Entahlah, ada di belahan bumi mana dia sekarang. Yang jelas kakiku mulai
pegel-pegel dari tadi berdiri di depan sekolah, panas-panasan gini. Sendirian
pula.. nyebelin banget gak, sih?
“Lagi apa?” sapa
seseorang dari belakang. Ya iyalah.. masa dari atas.
“Seperti yang
kamu liat” jawabku singkat.
Sumpah males
banget ngobrol sama orang yang sepertinya tidak berasal dari planet bumi ini.
“Ikut aku yuk
!!” ajaknya tiba-tiba dan sebelum aku tersadar dia sudah menarikku untuk naik
ke sepada motornya. Untuk sepersekian detik aku hanya bisa terdiam dan melongo.
Aku rasa, semua yang ada di depan sekolah memperhatikanku dengan muka yang
–menurutku- menunjukkan rasa iba dan kasihan. Ada apa sih? perasaan aku
baik-baik saja deh.. ya.. sebelum kejadian –tanganku ditarik- ini.
“Mau kemana sih
Ken?” tanyaku memberanikan diri setelah tersadar dari –kemelongoanku- tadi.
“Sudah, kamu ga
usah banyak tanya deh !” jawab Kenzo yang menurutku sedikit membentak. Aku
cemberut, sebenarnya siapa sih yang seharusnya marah? aku apa dia? Ughh..
“Kamu tu
nyebelin banget deh ! apa sih mau kamu itu, hah ? kalo emang mau ngerjain aku,
ya ga gini juga kali” aku mulai cerewet, “Bisa diem ga sih? aku tu capek
dengerin omongan kamu ! ntar kamu juga bisa nyimpulin sendiri kok. Kalo emang
kamu pengen tahu, jahit tuh mulut !”
Hellow... kenapa
jadi dia yang sewot bin ga sabaran gini ya? masa iya cowok ada PMS juga?
Kenzo... kenzo... kamu tuh.. ada apa... dan sebenanrnya kenapa sih? aku ga tahu
ya, apa ini cuma perasaanku ssaja atau memang benar kenyataannya. Sejak kenal
kamu aku seperti harus menyelesaikan suatu permasalahan yang bahkan masalahnya
itupun aku ga tahu apa. Aku seperti mencari sesuatu yang belum penah kutemui.
“Hei.. sudah
nyampe... “ ucap Kenzo tiba-tiba dan membuyarkan lamunan ga penting ku tadi, “Terus?”
tanyaku sok ga peduli. Padahal, dalam hati aku mulai penasaran sama tempat ini.
Ini dimana sih? asing banget. Aku ga pernah ni kesini, ya iyalah namanya juga
baru pindah.
“Ayo !” ajaknya
dan sekali lagi dengan tiba-tiba. Well, pelsajaran hari ini tentang Kenzo,
kalau berada di dekat dia harus selalu pasang posisi siap kuda-kuda. Soalnya
nie, kalau deket-deket dia bawaannya dibikin kaget terus. Jadi, jangan heran
kalo tidak ada temen di kelasku dan bahkan di sekolahku yang mau berteman dengannya.
Hanya aku yang –dipaksa- untuk berbaik hati menemaninya disini sekarang, catet
ya –dipaksa- berbaik hati !
“Aku minta maaf...
“ katanya memulai pembicaraan, “Ku maafin.. “ jawabku sekenanya “Hahaha... kamu
ga mau tanya, ini tempat apa dan buat apa aku bawa kamu kesini?” tanyanya dan
tentunya pertanyaannya kali ini asli bikin aku tambal suebbel. Bukannya aku sudah
dari tadi nanya kaya gitu tapi, SELALU disuruh diem? maunya apa sih ini anak?
Bikin aku darah tinggi, iya ! aku ga mau jawab. Biar dia kebingungan sendiri.
Rasain.. emang enak dikacangin. Wekkk... aku tertawa senang dalam hati.
“Kamu bisa
nyanyi kan?”
“Darimana kamu tahu?”
“Jawab saja
kenapa sih? aku tanya, balik tanya..”
“Kan belsajar
dari kamu !” jawabku masih dengan –sekenanya-- diem-diem aku perhatikan dia..
manis sih.. cakep juga, 99% lah. Sayang saja dia orangnya ketus. Eh, apaan sih
kok jadi muji gini. “Aku boleh minta 1 permintaan ga?” tanyanya kemudian.
“Eh?”
“Boleh ga? Aku
mohon banget sama kamu”.
Tumben banget
ini anak sampe segininya minta tolong ke aku... aku pun hanya bisa tertawa
bahagia.. hahahahaha...
“Oke, karena
kamu ketawa, itu tandanya kamu setuju. Aku pengen kamu nyanyi lagu ini buatku
sekarang” katanya smbil menyodorkan sebuah kertas. Aku diam.
“Denger ga sih?”
“Iya aku denger,
tapi emang buat apa sih?” tanyaku.
“Kamu jadi cewek
banyak tanya banget ya.. tinggal bilang iya atau tidak emang apa susahnya coba?
Yasudahh klo km emng ga mau bantuin aku sekarang kita pulang saja” ucap Kenzo
langsung berdiri meninggalkanku. Aku mengejarnya dari belakang, karena memang
aku ga begitu kenal daerah ini, jadi kalau ga pulang sama dia, aku mesti pulang
sama siapa lagi. Aku melihat raut muka Kenzo berubah. Dia seperti marah dan..
sepertinya memang marah. Oh men, semoga saja dia masih tetep mau boncengin aku,
minimal sampai sekolah lah. “Naik !” perintahnya kemudian, setelah beberapa
menit cuma mendiamkanku.
Keesokan harinya...
Aku mulai
menyusuri kelas satu-persatu dari ujung satu sampai ke ujung lainnya, tapi
tidak ku temukan Kenzo. Sebenarnya kemana sih itu anak? Masa dia ga masuk? “
Ngeliat Kenzo ga?” tanyaku pada setiap anak yang ku temui, dan jawaban mereka
pasti seragam. Klo ga jawab gini, “Tidak” pasti ga jauh-jauh dari jawaban ini
“Ngapain nyari Kenzo? Ih aneh banget” ya begitulah anak-anak di sekolahku.
Kenzo emang anaknya introvet banget tapi malah hal itu yang bikin dia dikenal
sama anak-anak satu sekoalahan. Aku mulai capek mencarinya kasana-kemari tapi
yang dicari tak kunjung ketemu. Akhirnya.... aku putuskan bahwa Kenzo emang
bener-bener ga masuk.
Diary
Luna
13
Februari
Aku
tidak habis pikir kenapa aku harus kenal orang seperti dia. Kenzo, Kenzo, Kenzo.
Aku seperti mengenal dia tapi aku tidak tahu kenal dimana. Aku merasa seperti
telah mengenalnya lama, tapi aku tidak tahu
sejak kapan aku mulai mengenalnya. Wajahnya familiar buatku, tentu saja bukan
seperti kucing Nala seperti yang ku ceritakan kemarin. Ah.. tapi mungkin ini
hanya rasa dejavu ku saja. Mungkin aku mengenalnya hanya dalam mimpi atau
mungkin aku pernah bertemu dengannya di jalan, di mall, di toko buku sebelum
aku masuk sekolah ini. Aahh.. iya.. mungkin karena itu aku merasa akrab dengan
wajahnya.
16
Februari
Hari
ini hari ketiga Kenzo tidak masuk sekolah. Aku bingung dia kemana. Aku cari tahu
ke TU alamatnyapun idak jelas. Tidak tahu
kenapa aku merasa kangen. Aku kangen semua yang ada pada dirinya. Mungkin aku
mengenalnya memang belum sampai seminggu, tapi entah kenapa aku merasa nyaman
berada di dekatnya meskipun yang kurasa selalu rasa sebel dan sebagainya.
Kenzo.. sebenarnya kamu kemana?
2
Maret
Well,
sudah 2 minggu ini Kenzo tidak masuk dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk
itu. aku bingung sebenarnya dia kemana. Kemarin aku datangi lagi alamat rumahya
yang ku dapatkan dari TU, tapi tetap saja rumahnya kosong, dia memang aneh. Apa
dia tidak punya saudara disini? tapi apakah iya? ah.. aku bingung.. Kenzoo..
kamu jahat. Kamu buat aku masuk dalam hidupmu tapi kamu tidak mengizinkan aku untuk
kenal kamu lebih jauh. Km dengan sebegitu gampangnya mengenalku dan mengerti
aku, tapi kenapa aku rasa semua itu sulit? ini tidak adil buatku. Dan aku rasa... ...
Keesokan Harinya
“Udah deh Lun,
kamu ngapain masi nyari-nyari dia lagi? Sudah tahu dia tidak peduli sama kamu.
Kalau emang dia peduli sama kamu. Dia tidak mungkin membuatmu bingung seperti
ini.. “ ujar Tia lagi dan lagi.
Aku sampai capek
mendengarnya. Tapi kadang aku memang menyetujui perkataanya, “Tapi aku... kamu tahu
kan Tia.. dia itu orang pertama yang bikin aku... “ “Jangan bilang kamu suka
dia?” potong tia.
Aku terdiam, aku
bingung harus menjawabnya bagaimana, karena aku merasa itu bukan pertanyaan
lagi. Aku memang.. aku memang... mulai menyukainya.. tidak perlu waktu yang
lama, karena dia telah berhasil mencuri hatiku hanya dengan tatapan matanya.
“Aku menyukainya Tia... “ akhirnya ku keluarkan juga kalimat itu. Ada rasa lega
di hati ini, tapi ada juga rasa khawatir ketika aku lihat raut muka Tia berubah,
aku tahu dia akan marah. “ Tia maafin aku... “ ucapku terisak.
Diary
Luna
4
Maret
Hari
ini aku merasa bebanku sedikit berkurang setelah aku menceritakan semuanya pada
Tia tentang perasaanku. Aku lega sekali ketika aku tahu Tia dapat mengerti
bagaimana perasaanku dan bahkan berniat untuk membantuku mencari keberadaan
kenzo. Sepertinya aku tahu aku harus mulai darimana untuk mencarinya. Iya.. aku
tahu.. dan.. dan sepertinya aku tidak perlu membawa Tia dalam masalah ini. Aku
harus pergi ke tempat itu sendiri....
******
Aku terbangun
dan kulihat Ayah telah berada di sampingku. Aku bingung. Matanya memerah dan
tampak sayu penuh iba. Aku lihat sekeliling, penuh dengan warna putih. Ini
dimana? seketika Ayahku menjawab “Tenang sayang, kamu di rumah sakit sekarang.
Syukurlah kamu sudah sadar. Ayah sayang kamu” aku sakit? sejak kapan? aku sakit
apa? belum sempat ku tanyakan lebih banyak lagi, Ayahku berlari keluar.
Beberapa menit kemudian Ayah kembali dengan beberapa dokter dan suster di belakangnya.
Mereka memandangku seolah telah terjadi keajaiban yang sangat sangat ajaib. Aku
bingung, tentu saja aku bingung, akhirnya ku tanyakan pada Ayah
“Ayah,
sebenarnya aku kenapa? apa yang tejadi padaku? lalu sejak kapan aku berada
disisni?” Ayahku hanya terdiam dan tersenyum, lalu ia menjawab “Tenang sayang,
nanti Ayah ceritakan. Sekarang Ayah ingin kamu sembuh dulu. Kamu benar tidak
ingat apa-apa?” tanya Ayahku.
Aku anggukkan
kepala lalu Ayah mulai bercerita setelah dokter dan suster yang telah selesai
memeriksaku keluar “Kamu koma sayang sejak sebulan yang lalu. Tapi Ayah senang
sekali karena ternyata kamu sadar dan kamu dapat mengingat Ayah meskipun kamu
tidak dapat mengingat kejadian satu bulan yang lalu ketika kamu kecelakaan
mobil bersama Ayah. Maafin Ayah ya sayang, sudah membuatmu begini” ucap Ayah
terisak.
Lalu aku ingat
sesuatu, bukankah selama ini aku hidup? bukankah aku sekarang seharusnya berada
di Jogja?
“Ayah apa benar
aku selama sebulan ini berada disini?” tanyaku pada Ayah. “Iya sayang benar,
ada apa?” tanya Ayahku balik “Luna boleh minta tolong, Yah? Ayah tahu kan kalau
Luna biasanya sering menceritakan semua kegiatan Luna di diary berwarna pink. Ayah
tahu tidak sekarang diary itu dimana?” Ayah terdiam sejenak, lalu berjalan ke
sudut ruangan dimana terletak sebuah rak meja dan mengambil sesuatu dari
dalamnya “Ini maksudmu sayang?” “Iyaa.. Luna ingin baca, Yah.. “ “Yasudah ini.. Ayah pergi ke luar dulu ya... “ setelah
Ayah menutup pintu aku mulai membuka diaryku dan membacanya.
******
Aku kaget.. di situ
jelas sekali sama seperti apa yang aku alami akhir-akhir ini. Tapi kenapa Ayah
bilang aku berada dirumah sakit ini dan koma sejak sebulan yang lalu? Lalu aku
pergi kemana dan kalau bukan aku lalu siapa yang menulis diary ini? dimana
Kenzo? dimana Tia? dimana Pak Sodik? kenapa semuanya kurasa nyata? bahkan
sangat-sangat nyata. Aku yakin aku mengalamiya sendiri. Aku yakin aku
mengalaminya. Tapi bagaimana mungkin aku bisa ada di kehidupan nyata sedangkan
aku terbaring koma di sini dan dalam waktu yang bersamaan? mimpi? tidaak
mungkin... di sini ada buktinya. Aku menulisnya sendiri, dan terakhir kali aku
menulisnya, sehari yang lalu, 14 Maret. Tidak aku harus mencari tahu sebenarya
ini ada apa. Kulihat Ayah datang dan menghampiriku
“Luna makan dulu
ya.. “
“Ayah.. waktu Luna
koma, diary ini siapa yang pegang?”
“Tidak ada,
diary itu Ayah biarkan di rak meja sana. Memangnya ada apa? ada yang hilang?”
tanya Ayah dengan wajah bingung..
“Oh tidak yah..
“ jawabku mencoba untuk biasa saja. Akhirnya ku tutup diary itu dengan penuh
tanda tanya besar.. tapi apa ini? Aku
melihat ada selipan diantara lembaran diaryku.. aku buka.. sebuah lagu...
I make believe that you are here.
It's the only way..
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy..
Aku ingat, ini
lagu yang pernah diminta Kenzo untuk ku nyanyikan. Tapi buat apa? dan ini lagu
apa ya? bahkan aku tidak pernah mendengar ada sebuah lagu dengan judul seperti
ini, apalagi liriknya. Akhirnya aku mecoba untuk menyanyikan lagu itu dengan
lirik yang kuciptakan sendiri. Aku menyanyikannya dengan pelan, pelan dan pelan
sampai akhirnya aku merasa ada yang berbeda. Aku berada di ruangan yang
berbeda. Semua kurasa berwarna abu-abu. Pening kepalaku. Samar-samar kulihat
seorang cewek berambut panjang sebahu mirip denganku sedang berjalan bersama
cowok tinggi tegap yang.. kurasa.. dia seperti Kenzo.. iya benar dia Kenzo..
dan itu aku? tidak.. tidak mungkin.. tidak mungkin...
Dengan kepala
yang masih kurasa pening, aku mengikuti langkah kembaranku dan kembaran Kenzo
dari arah belakang. Aku melihat mereka berjalan ke arah dimana aku melihat Kenzo
untuk yang terakhir kalinya kemarin, ketika dia memintaku untuk menyanyikan
lagu ini. Aku melihat apa yang mereka lakukan sama dengan apa yang aku
ceritakan dalam diaryku. Aku menjadi semakin bingung. Aku melihat kenzo pergi
dengan raut muka marah sama seperti apa yang ku alami sebelunya dan aku
berjalan di belakangnya dengan raut muka jutek. Aku tidak tahu kenapa aku bisa
ada di sini sekarang dengan orang-orang yang begitu familiar denganku tapi tidak
dengan mereka. Bahkan melihatku pun sepertinya mereka tidak bisa. Aku
dilewatinya begitu saja, karena itu juga sampai saat ini, aku masih disini
melihat apa yang kembaranku lakukan. Aku semakin bingung ketika semua yang
terjadi ternyata sama dengan apa yang telah kualami dan dengan apa yang tertulis
dalam diary. Sampai akhirnya pada halaman belakang diaryku.. ketika aku tahu harus
mencari keberadaan Kenzo dimana.. yang ku lakukan adalah.. menyanyikan lagu
itu.. dan aku baru sadar bahwa dengan menyanyikan lagu itu, tandanya aku dan Kenzo
kemungkinan akan bertemu kembali.. iya aku akan bisa melihatnya lagi, melihat
mata teduhnya kembali.
Lima menit telah
berlalu tapi aku tidak merasakan akan kehadiran Kenzo. Dia tidak muncul
dihadapanku. Aku lihat sekeliling. Tidak ada orang di sekelilingku. Aku merasa
sedih tapi aku tetap bernyanyi berharap kenzo dapat kembali ke hadapanku lagi.
Tapi tidak, tidak untuk saat ini. Ketika aku tahu bahwa aku telah terlambat untuk
menyetujui permintaan Kenzo kemarin, dan selembar kertas terbang diatasku yang
turut mengantarkanku kembali pada dunia nyata “Luna.. kamu sadar sayang? Ayah
sampai takut kamu kenapa-kenapa lagi”
Catatan Kenzo
Ketika
aku menyadari bahwa kamulah yang akan membawaku kembali pada masa depan, aku
merasa bahagia.
Aku
merasa bahwa semua akan kembali nyata dan aku dapat kembali merasakan cinta
yang sebenarnya bersamamu.
Tapi
sayang, semua itu tidak seperti apa yang aku pikirkan.
Kamu
terlalu banyak tanya dan itu menghabiskan separuh dari nyawaku.
Aku
tidak ingin waktu juga memakan nyawamu.
Karena
aku...
Sayang
kamu lebih dari apapun.
Aku
pergi bukan karena aku tidak peduli kamu.
Tapi
aku ingin kamu tetap bisa merasakan betapa indahnya dunia yang sebenarnya.
Kemanapun
kamu pergi, yakinlah bahwa aku selalu hidup dalam hatimu.
Selalu
bersemayam dalam detak jantungmu.
Selamanya..
Komentar
Posting Komentar